Pucuk Dicinta Amis pun Tiba

Kami beri nama acaranya “Pucuk Dicinta, Amispun Tiba.” Sederhana, tapi rasanya tepat. Malam itu Candatawa bukan cuma tempat ngopi, tapi jadi ruang dengar. Lagu-lagu Amis mengalir pelan.

Ada kalanya rencana dibuat rapi, ada juga yang datang begitu saja tapi rasanya pas. Begitu juga dengan acara ini. Dari obrolan ringan, muncul satu nama yang bikin kami langsung bilang, “kalau bisa sih, dia.” Dan ternyata semesta lagi baik—Amis datang ke Candatawa.

Kami beri nama acaranya “Pucuk Dicinta, Amispun Tiba.” Sederhana, tapi rasanya tepat. Malam itu Candatawa bukan cuma tempat ngopi, tapi jadi ruang dengar. Lagu-lagu Amis mengalir pelan, menemani obrolan yang biasanya ramai jadi lebih tenang. Ada yang ikut bersenandung, ada yang diam sambil menikmati, ada juga yang cuma duduk dan tersenyum.

Suasananya hangat dan dekat. Tanpa jarak berlebih antara panggung dan penonton. Seperti teman yang sedang bercerita lewat lagu. Kopi tetap diseduh, tawa tetap ada, tapi semuanya terasa lebih pelan dan penuh perhatian.

Buat kami, acara ini bukan soal besar atau kecilnya panggung, tapi tentang momen yang tercipta. Tentang pertemuan yang akhirnya kejadian, dan musik yang menemukan tempatnya.

Terima kasih untuk Amis yang sudah datang dan berbagi cerita lewat suara. Terima kasih juga untuk teman-teman yang hadir dan mengisi ruang Candatawa malam itu. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya—siapa tahu, pucuk lain juga akan tiba.

OTHER IDEAS

Create a free website with Framer, the website builder loved by startups, designers and agencies.